Rabu, 11 Juni 2008
Trik Memelihara Iman
1. Muhasabatunnafsi, yaitu melakukan introspeksi diri. Mengidentifikasi apa saja kelemahan, kekurangan, dan kesalahan kita, lalu diperbaiki dengan sungguh-sungguh.
2. Riyadhah rhiyah, yaitu dengan membiasakan amalan-amalan sunnah seperti shaum sunnah, salat Dhuha, salat Tahajjud,dan amalan-amalan lain yang dapat menyuburkan ruhiyah.
3. Tadabbur Al-Quran, yaitu membaca, memahami, menghayati, serta mengamalkan Al-Quran. Rasulullah saw pernah bersabda,”Sebaik-baik dari kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an, kemudian mengajarkannya.” (H.R. Bukhari)
4. Dzikrullah (banyak mengingat Allah). Dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tentram. Ketentraman itu terasa dari jiwa ihsan, yaitu merasakan Allah selalu melihatnya sehinggga setiap aktivitas senantiasa ada dalam tataran fitrahnya.
5. Memperbanyak doa. Doa merupakan kekuatan orang muslim.
6. Mencintai fakir miskin dan anak yatim. Abu Hurairah r.a. bercerita, seseorang melaporkan kepada Rasulullah saw. tentang kegersangan qalbu yang dialami. Beliau menegaskan,” Bila engkau mau menghidupkan qalbumu, beri makanlah orang-orang miskin dan cintai anak yatim.”
Demikianlah trik agar iman kita tetap kuat. Bisa dicoba nih, triknya biar iman kita kuat dan Insya Allah bertambah kuat. Mau???
Ketika Yahudi Menunggu Subuh KIta
Apa sih yang kita kerjakan di waktu subuh? Nyiapin buat kuliah? Atau olahraga terus nyantap sarapan pagi? Tapi sudahkah kita solat subuh berjamaah?
Bisa jadi, kecemasan Yahudi seperti ni yang dicemaskan banyak pemmpin sekuler dunia di mana masjid-masjid yang berdiri di wilayah mereka. Mereka pun memasang kamera pengintai yang dapat mengawasi isi khutbah para khatib.
Mendengar pembicaraaan rabbi pertama, rabbi kedua tertawa lantas berkata,”Janganlah takut, Saudaraku. Sholat Jum’at janganlah kita jadikan ukuran bahwa umat Islam sudah bersatu. Sholat Jum’at bukan pertanda bahwa mereka sudah bersatu, walau mereka biasanya memenuhi masjid di waktu siang. Walau jumlah mereka banyak, tapi sebenarnya mereka tercerai-berai.”
Rabbi pertama lantas bingung dan bertanya, “Jika demikian, apa yang bisa kita jadikan tolok ukur bahwa mereka sudah bersatu-padu dan apa tanda-tanda bahwa mereka segera menghancurkan kita?”
Rabbi kedua terhenyak dan kemudian dengan perlahan-seolah takut didengar orang-rabbi kedua berbisik,”Sholat Jum’at memang tidak bisa kita jadikan tolok ukur kekuatan mereka. Satu-satunya yang bisa kita jadikan tolok ukur , satu-satunya yang harus kita waspadai, satu-satunya yang harus kita cemaskan adalah jika orang-orang Islam itu sudah melaksanakan sholat Subuh berjamaah sebanyak mereka menunaikan sholat Jum’at. Bila sholat Subuh mereka sudah memenuhi masjid-masjid seperti halnya sholat Jum’at, maka barulah itu tanda-tanda akan datangnya kehancuran bagi kita. Di hari itu kita wajib waspada."
Saudariku, betapa pentingnya shalat Subuh bagi seorang muslim. Tapi amat disayangkan bila shalat Subuh tidak dijadikan awal kekuatan kita sebagai seorang muslim. Dan amat disayangkan pula karena yang mengetahui kekuatan kita yang sebenarnya adalah bangsa Yahudi bukan muslim. Karenanya kita tidak dapat mengukur kekuatan kita sendiri, padahal di luar sana banyak musuh-musuh Islam yang menginginkan kehancuran Islam.
Wallahu 'alam
Kamis, 22 Mei 2008
Refleksi Kebangkitan Nasional
Meski ada yang berbeda pendapat bahwa bukan tahun 1908 saat berdirinya Budi Utomo kita bangkit, namun sejak berdirinya Sarekat Dagang Islam tahun 1905. Rasanya bukan itu pointnya. Sekarang kita sama-sama mengetahui kondisi bangsa yang tak kian maju ini.
Kenapa tak maju-maju? Karena bangsa ini bahkan belum berdiri. Berarti belum sepenuhnya bangkit dari tidur panjangnya. Artinya juga kita masih terlena dengan dongeng kerajaan yang kaya raya yang baru dilepas oleh penjajah. Bangsa ini sebenarnya masih terjajah. Ruang politik dunianya masih dikontrol negara adidaya, seperti boneka mainan saja. Sumber daya alamnya yang terkenal melimpah ruah, sebenarnya tak sedikitpun mampu menjawab permasalahan kelaparan dan kemiskinan rakyatnya. Karena aset-aset berharganya telah dijajah pihak asing, yang tentu saja tak pernah memikirkan kesulitan rakyat dari negri yang dijajahnya. Ditambah lagi krisis pemimpin bangsa yang bersih, tegas, adil dan amanah. Bangsa ini sudah terpuruk, maka janganlah kita menambah kehancurannya.
Yang mengerikan untuk dibayangkan adalah bila para wanita justru menjadi penyebab kehancuran peradaban. Karena, bayangkan bila para wanita negeri ini justru stress dan tak tentu arah menyikapi permasalahan bangsa. Kemiskinan bisa membawanya menjadi pekerja seks, Na'udzubillahi mindzalik. Dari situ justru timbul masalah baru. Ia bisa mengidap penyakit AIDS begitupula para lelaki yang 'bermain' dengannya. Kalaupun tidak sakit, tapi kalau ia hamil lantas menggugurkan bayinya karena tidak punya uang untuk membiayai anaknya. Itu juga masalah sosial yang timbul akibat degradasi moral wanitanya.
Atau bila para ibu menjual anaknya ke preman jalanan agar mendapatkan uang demi menyambung hidup. Sang anak bukannya mengecap pendidikan yang baik disekolah malah belajar menipu dan menjambret dari preman. Bila sang istri selingkuh akibat suaminya tak mampu membelikannya kosmetik. Sehingga kehidupan rumah tangga dan anak-anaknya berantakan. Atau bila gadis remaja rela 'jalan' dengan lelaki hidung belang yang bisa memberinya uang untuk bayar sekolah atau sekedar jajan dan hidup hedonis. Generasi penerus bangsa semakin rusak, tak ada lagi yang mampu memberi solusi bagi permasalahan bangsa. Sehingga perlahan tapi pasti, bangsa ini bukannya maju malah jatuh dan mati.
Sejak seminggu yang lalu, saya googling dan baca berbagai opini tentang 100 tahun Indonesia. Kesimpulannya, masih banyak kekecewaan. Wajar. 100 tahun adalah angka yang besar untuk memperingati kebangkitan suatu bagsa. Tapi nyatanya : BBM naik hampir 30%, yang akan segera disusul dengan kenaikan bahan pokok dan angkutan umum. meski jutaan rakyat menolak dan berunjuk rasa, pemerintah seakan tak punya hati tuk menanggapi.
Pidato pak presiden yang menyoroti kemandirian bangsa, nampaknya hanya manis di bibir tapi pahit pada faktanya: indosat dikuasai singapura, XL garapan malaysia, Freeport masih diperpanjang kontraknya, beberapa ladang minyak digenggam Chevron, ExxonMobil, PetroChina, dll. Mana amanat UU bahwa kekayaan alam yang terkandung didalam bumi Indonesia ini dikuasai negara dan dimanfaatkan untuk seBESAR-BESAR kemakmuran rakyat?
Saya juga sempat menonton acara perayaan 100 tahun kebangkitan nasional yang serba wah itu, ditengah himpitan yang ada. Rakyat yang kelaparan dan mungkin besok paginya harus ngantri minyak, dipaksa melihat presidennya tersenyum melihat hiburan aksi terjun payung para jendral TNI. Karena seluruh televisi serentak menayangkan acara itu. Sepanjang acara hanya hiburan. Nyanyi-nyanyi. Tidak ada refleksinya!
Hari ini, 22 Mei, diadakan seminar 'Selamatkan Indonesia' di Aula Barat ITB. Acara yang dikelola oleh teman-teman dari FIM, GAMAIS dan Kabinet KM ini justru sangat menarik dan memiliki poin lebih dibandingkan perayaan di senayan itu. Memaknai kata 'Bangkit' dengan memulai dari membangun Pendidikan yang baik, aku rasa itu bisa jadi salah satu solusi dari permasalah bangsa saat ini.
Salut sama Pak Ahmad Heryawan (Gubernur Jabar Terpilih) yang mau duduk bareng mahasiswa dan diskusi tentang pendidikan sebagai solusi memerangi kemiskinan. Karena memang untuk memutus mata rantai semua permasalahan bangsa, pendidikan adalah kuncinya. Karena apa yang dilakukan seseorang, tak akan mungkin melangkahi apa yang ada dalam otak/pikirannya. Kalau otaknya hanya sejengkal, tak mungkin ia melangkah sehasta. namun bila isi otaknya melebar jadi sehasta, maka ia pasti bisa melangkah sehasta pula. Seseorang tak mungkin bekerja untuk hidup sejahtera bila pengetahuannya rendah.Salut juga sama temen-temen penginisiasi Rumah Belajar KM. Semoga usaha membantu mendidik adik-adik yang tidak mampu itu memang bisa mendewasakan. Baik mendewasakan adik-adik muridnya, maupun para mahasiswa pengajarnya.
Kembali ke 100 tahun Indonesia bangkit. Saya hanya seorang mahasiswa yang masih banyak mengeluh dan belum banyak berkontribusi. Terlepas dari sudah bangkit kah Indonesia atau belum? So, I just wanna keep struggle to have a better civilization of my nation.
Saya yakin ditengah kelemahan pemimpin negeri ini masih ada sebagian diantara mereka yang benar-benar ingin negeri ini maju. Indonesia 2008 seperti ini. Mungkin Indonesia 2030 sebagaimana visinya yang sudah banyak dibayangkan para pemimpin, kehidupan bangsa ini benar-benar bisa lebih baik dari saat ini. Akankah? It may be faster or longer. It depends on us as the agent of change, isn't it?
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
-------------------
Fahri : Pak, bolehkah saya meminjam uang pada bapak, untuk pengobatan adik saya yang sakit parah?
Bahadur : Hmm, lebih baik kau kerja saja padaku! Hasilnya pasti sangat besar bagi orang semiskin kamu! ayo, jual Narkoba dengan saya!
Fahri : astaghfirullahal'adzim...
( sekilas dialog dari teater anak Kampung 200 di seminar 'Selamatkan Indonesia' ^ ^)Ku Tertegun dan Berharap
yang bersemilir melintasi untaian zamrud khatulistiwa negriku..
Ku tertegun
Ya Rabb,apa yang terjadi pada para ibu di negriku?
apa yang terjadi pada para gadis remaja?
apa yang terjadi pada para bocah perempuan kami?
Adakah semua itu berdampak
pada kehancuran dan kerusakan melanda negeri ini...
Ya Rabb, Engkau Yang Maha Mengampuni
Selamatkanlah kami dari kehancuran bangsa ini
Selamatkanlah kaum perempuan sehingga tidak menjadi fitnah di bumi
Jikalau kami berpaling dari fitrah kami
Kembalikan kami ke jalanMu
Dan jadikanlah kami bagian dari pembangun peradaban negeri ini
Hanya padaMu Ya Rabb,
kami beribadah dan berharap
Selasa, 22 April 2008
Hari Kartini : 'Aisyah, pejuang wanita seluruh dunia
Amru bin ‘Ash pernah diutus Rasulullah SAW untuk memimpin pasukan menuju Dzatus Salasil. Ia kemudian mendatangi Rasulullah dan bertanya, “ Siapakah orang yang paling engkau cintai? “
“’Aisyah,” jawab beliau.
“Dari kaum laki-laki?”
“Ayahnya (Abu Bakar)” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi)
‘Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq, siapa tak mengenal perempuan cantik, cerdas, shalihah dan dicintai Rasulullah SAW ini? Humairo, pipi putih kemerah-merahan adalah pujian Rasulullah pada kecantikannya. ‘Aisyah adalah anak dari sahabat dekat sekaligus istri yang paling istimewa bagi Nabi terakhir kita yang mulia. Maka ia mendapat gelar Ummul Mu’minin (Ibunya orang-orang mu’min). Bahkan bila kita ingin mencari pahlawan wanita yang benar-benar memperjuangkan hak-hak kaumnya di seluruh dunia, ‘Aisyah lah jawabannya.
Saudariku, bila kita baca kembali gagasan-gagasan Kartini tentang emansipasi wanita, maka kesimpulannya hak perempuan yang harus diperjuangkan adalah hak memperoleh pendidikan yang sama. Di era Kartini (akhir abad 19), wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diizinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diizinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya. Padahal ‘Aisyah yang lahir 15 abad yang lalu sejak usia remajanya telah memikirkan tentang hak kaum perempuan itu.
Dari segi pendidikan, Kartini hanya belajar sampai sekolah dasar tapi juga rajin membaca buku-buku tentang kemajuan wanita di Eropa. Sedangkan ‘Aisyah sejak kecil senang belajar, bahkan mampu menghafal ayat al-Qur’an yang didengarnya meskipun sedang asik bermain. Ia berkata,
“Ketika aku masih kecil dan suka bermain, Rasulullah SAW menerima ayat berikut ini di Mekah, ‘Bahkan hari Kiamat itulah yang dijanjikan kepada mereka dan hari Kiamat itu lebih dahsyat dan pahit.’(QS.Al Qamar : 46) “ (HR. Bukhari)
‘Aisyah beruntung karena memperoleh kehormatan untuk menjadi sahabat sekaligus istri terdekat Rasulullah sejak kecil hingga remaja. Sehingga ia dapat belajar langsung dari Rasulullah tentang Islam, dan ia banyak bertanya tentang hal-hal khusus yang dialami wanita. Bahkan Rasulullah menunjuk ‘Aisyah untuk mengajarkan Islam khusus bagi kaum perempuan. Maka ‘Aisyah selalu membantu para perempuan yang datang padanya dan menyampaikan persoalan mereka kepada Rasulullah SAW.
Dari ayahnya, Abu Bakar, ‘Aisyah mewarisi keahlian bidang sastra dan syair. Ia juga menguasai sejarah bangsa-bangsa dan ilmu pengobatan. Keluasan ilmunya terlihat dari caranya berbicara dan bertingkah laku.
‘Aisyah adalah satu-satunya perempuan yang termasuk periwayat hadits terbanyak. Ia mampu menghafal dan meriwayatkan 2.210 hadits dari sekitar 9 tahun perjalanan hidupnya bersama Rasulullah. Padahal sebagaimana fitrah seorang wanita, ia jarang keluar rumah dan berkesempatan lebih sedikit dalam menghadiri majelis-majelis illmu hadits dibandingkan laki-laki. Ia juga tidak memiliki kesempatan berkunjung ke kota-kota besar pusat ilmu pengetahuan, sebagaimana kesempatan itu dimiliki laki-laki. Ini membuktikan bahwa fitrah sebagai perempuan tidak menjadi penghalang bagi seorang perempuan dalam mencari ilmu, karena mereka tetap bisa berprestasi dan berkarya.
Tentang perjuangannya mengangkat derajat kaum perempuan, terlihat dari pendapatnya yang banyak memberi kemudahan dan pembelaan bagi kaum perempuan.
1.Bangsa Arab sangat bangga memanjangkan dan menyeret pakaiannya di atas tanah. Rasulullah melarang hal itu dengan bersabda,
“Barang siapa menyeret pakaiannya untuk menyombongkan diri, Allah tidak akan pernah memandangnya di hari kiamat” (HR Bukhari Muslim).
Mendengar hal itu, ‘Aisyah bertanya kepada Nabi, “Bagaimana dengan pakaian perempuan? “
Beliau menjawab, “ Panjangkanlah sejengkal saja”
‘Aisyah bertanya lagi, “ Jika kaki mereka terlihat? “
Rasulullah berasabda, “ panjangkanlah sehasta, dan jangan lebih dari itu. “ (HR. Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah, Ahmad, Darimi)
2. Islam memerintahkan agar perempuan dimintai persetujuan mereka sebelum dinikahkan. Rasulullah bersabda,
“ Seorang janda tidak boleh dinikahkan, kecuali ia dimintai pertimbangan. Seorang gadis juga tidak boleh dinikahkan hingga ia dimintai persetujuan. “ (HR. Bukhari, Muslim, Nasa’i)
Akan tetapi karena sifat dasarnya pemalu, seorang gadis seringkali malu menyatakan persetujuannya. ‘Aisyah menyadari itu dan berkata, “ Wahai Rasulullah, seorang gadis cenderung malu”
Rasulullah pun bersabda, “ Jika ia diam, maka itulah tandanya bahwa ia rela (setuju).” (HR.Bukhari)
3. Salah satu tradisi jahiliah yang merendahkan kaum perempuan adalah tidak ada batasan jumlah talak dan rujuk yang boleh dilakukan suami dalam perceraian. Suami bebas menalak istrinya berkali-kali.
Seorang perempuan yang mengalami hal ini mendatangi ‘Aisyah dan meminta solusi. ‘Aisyah belum bisa menjawab dan bertanya kepada Rasulullah. Rasulullah pun terdiam, hingga turun ayat.
“Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali. (Setelah itu suami dapat ) menahan dengan baik, atau melepaskan dengan baik…” ( QS. Al Baqoroh :229)
Sejak itu orang-orang memulai hitungan baru dalam talak yang mereka jatuhkan kepada istri mereka. (HR. Tirmidzi)
4. Abdullah bin Zubair pernah memfatwakan bahwa seorang perempuan yang berihram dalam haji maupun umroh, wajib memotong rambutnya sepanjang empat jari. Ketika ‘Aisyah mendengar fatwa itu, ia berkata,
“ Tidakkah kalian heran terhadap Ibnu Zubair ? Ia berfatwa bahwa seorang perempuan yang berihram harus memotong rambutnya sepanjang empat jari, padahal perempuan itu cukup memangkas ujung rambutnya saja.”
‘Aisyah bukan saja teladan perempuan dalam didang pendidikan. Dalam bidang rumah tangga, ia malah lebih sukses dibandingkan Kartini. Ia adalah istri yang selalu mendukung suaminya dan melayaninya dengan baik.
Meskipun Rasulullah beristri banyak, ‘Aisyah berinteraksi dengan sikap lapang dada terhadap istri-istri yang lain. Ia justru meriwayatkan banyak pujian kepada para istri Rasulullah yang lain. Ia memahami poligami bukan sebagai penindasan terhadap kaum wanita, justru perlindungan lebih dan penghargaan terhadap mereka. Ia juga tidak pernah berghibah atau menyakiti perasaan orang lain.
Dengan ketaatan pada suami yang dilandasi taat kepada Allah dan mengharap ridha Allah semata, kehidupan poligami ‘Aisyah dengan Rasulullah justru dipenuhi keberkahan dan hikmah yang luas. Hubungan ‘Aisyah dan Rasulullah tetap harmonis, bahkan Rasulullah pada akhir hayatnya berbaring dalam pangkuan ‘Aisyah.
Saudariku yang shalihah, ‘Aisyah adalah pahlawan bagi semua kaum perempuan didunia. Ia membuktikan bahwa wanita bisa memiliki kedudukan yang sama dengan laki-laki tanpa meninggalkan fitrahnya sebagai wanita. Asalkan wanita tersebut mau terus belajar, tidak malu bertanya dan meluruskan niatnya beraktivitas adalah untuk mengharap keridhaan Allah.
Cantik, cerdas, suci, lembut tetapi juga berani dan dicintai oleh suami termulia. Akhlak dan keluasan ilmunya adalah sumber inspirasi bagi seluruh wanita di dunia.
Muslimah…
Kau akan mulia, dengan ilmu dan ketaatanmu pada Allah! : )